Langsung ke konten utama

Susah Tahajud


Sang Ustadz menjawab pertanyaan terakhir dan mengakhiri halaqah dengan salam. Akan tetapi para santri masih saja berebut kesempatan untuk ber-curhat kepadanya. Biasanya bersifat sedikit privasi.

Namun, ada sebuah pertanyaan dari mereka yang membuat hati kian tersindir.

"Pak ustadz, saya sudah berusaha tidur sehabis Isya. Tapi saya terus terikat di kasur untuk Shalat Tahajud. Usaha apa lagi yang saya lakukan?"

"Nak, jika kita sulit untuk melakukan itu, maka tidak salah semuanya  akibat dari maksiat dan dosa-dosa kita. Maka tidak ada cara lain untuk menahan hawa nafsu."

"Ta...tapi sekarang saya sudah jauh dari gadget. Shalat berjamaah terus tepat waktu. Bahkan 10 juz sudah dihafalkan. Jadi saya sibuk memikirkan apa dosa saya yang menghalangi bangun di sepertiga malam agung itu."

"Tuh kan. Siapa bilang merasa sempurna dalam beribadah itu bukan termasuk dosa?"


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selam Masa Kelam

Waktu demi waktu terus menyeret raga dan atmanya. Menyisakan sampah berupa kenangan indah yang tak dapat terulang lagi Insan sekitar silih berganti kapan berbalik  Menikmati dan alami takdir tiap-tiapnya. Dan aku terdampar dalam masa meragu Kapan berakhir seiring kabar dunia makin memburuk Duduk menonton sendiri sebagai daging buangan rahim ibu Makhluk pilihan Tuhan dalam permainan-Nya mengujiku. Rasa sakit dalam ruh buat mereka acungkan pedang Mengambil harta orang lain dan nyawa tapi kau kembali buang Tiada sadar segala laku dalam untaian benang Para penguasa bermata satu bergerak dalang.

The Believer and The Unbeliever Slut

------------ "Sudahlah bondot reyot!  Tinggalkan halusinasi kehidupan setelah matimu. Terlalu sibuk terhadap dongeng zaman purba yang mengada-ngada, sampai lupa realita yang depan matamu sendiri!" bentak Grace dengan menggunakan seragam sekolah yang jauh dari norma agama sang kakek. ------------ "Agama itu hanya ada dua. Islam dan Kafir. Orang-orang kafir akan maju jika meninggalkan agamanya. Akan tetapi umat Islam akan mundur dan hancur jika meninggalkan agamanya." Penggalan kajian Shubuh dari seorang kakek renta itu disandangkan kepada negeri yang kini beliau tinggali.  Matahari rupanya sudah terbit. Beliau pulang dari masjid meninggalkan murid-muridnya yang bekerja sebagai marbot, dan mereka tinggal di ruang belakang. Jumlahnya hanya dapat dihitung dengan jari.. Karena dengan hingar bingar duniawi, pekerjaan pengabdi Tuhan dianggap kolot dan hanya dikenal sebagai budaya masa lampau. Saat melangkahkan kaki, beliau menoleh ke rumah ibadah tua yang kini diapit oleh ...

MENAFIKKAN

  Inginku tak mempercayai seutuhnya kisah konspirasi yang dikatakan Lapi apa daya, lidah mereka mengatakan serupa dengan apa yang aku lihat.