Langsung ke konten utama

Selam Masa Kelam



Waktu demi waktu terus menyeret raga dan atmanya.

Menyisakan sampah berupa kenangan indah yang tak dapat terulang lagi

Insan sekitar silih berganti kapan berbalik 

Menikmati dan alami takdir tiap-tiapnya.


Dan aku terdampar dalam masa meragu

Kapan berakhir seiring kabar dunia makin memburuk

Duduk menonton sendiri sebagai daging buangan rahim ibu

Makhluk pilihan Tuhan dalam permainan-Nya mengujiku.


Rasa sakit dalam ruh buat mereka acungkan pedang

Mengambil harta orang lain dan nyawa tapi kau kembali buang

Tiada sadar segala laku dalam untaian benang

Para penguasa bermata satu bergerak dalang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Believer and The Unbeliever Slut

------------ "Sudahlah bondot reyot!  Tinggalkan halusinasi kehidupan setelah matimu. Terlalu sibuk terhadap dongeng zaman purba yang mengada-ngada, sampai lupa realita yang depan matamu sendiri!" bentak Grace dengan menggunakan seragam sekolah yang jauh dari norma agama sang kakek. ------------ "Agama itu hanya ada dua. Islam dan Kafir. Orang-orang kafir akan maju jika meninggalkan agamanya. Akan tetapi umat Islam akan mundur dan hancur jika meninggalkan agamanya." Penggalan kajian Shubuh dari seorang kakek renta itu disandangkan kepada negeri yang kini beliau tinggali.  Matahari rupanya sudah terbit. Beliau pulang dari masjid meninggalkan murid-muridnya yang bekerja sebagai marbot, dan mereka tinggal di ruang belakang. Jumlahnya hanya dapat dihitung dengan jari.. Karena dengan hingar bingar duniawi, pekerjaan pengabdi Tuhan dianggap kolot dan hanya dikenal sebagai budaya masa lampau. Saat melangkahkan kaki, beliau menoleh ke rumah ibadah tua yang kini diapit oleh ...

MENAFIKKAN

  Inginku tak mempercayai seutuhnya kisah konspirasi yang dikatakan Lapi apa daya, lidah mereka mengatakan serupa dengan apa yang aku lihat.