Langsung ke konten utama

Binomo vs Klinik Tong Fang




Akhir-akhir ini sering bermunculan iklan yang menurut saya bikin cringe di youtube. Ya, iklan yang mempromosikan sebuah perusahaan menggiurkan yang menjanjikan penggunanya dapat menghasilkan uang tanpa keluar rumah.

Kebanyakan orang menyebutnya sebagai perusahaan trading atau jual beli mata uang secara online. Namun tak sedikit pula masyarakat yang menyebutnya sebagai perjudian dan jauh dari kata trading. 

Si pemeran iklan mengaku seorang trader profesional bernama Budi Setaiwan (eh Setiawan). Konon ia meraih segala kekayaan berupa properti (dengan dikelilingi 2 orang cewek) dalam kurang dari satu tahun. Orang itu juga mengatakan dirinya tak mengetahui tentang bursa, saham, ataupun itu. Namun si Budi merasa terinspirasi dari film The Wolf of Wall Street yang menceritakan orang-orang yang menghasilkan uang dari ketiadaan.

Lelaki berambut jamet itu tak hanya "menghasilkan uang" 1000$ per hari, bahkan hanya butuh waktu 2-3 jam! Ia juga "memperlihatkan" bagaimana cara kerja aplikasi 'trading' bernama Binomo dengan mudahnya mengenyot uang dalam hitungan klik. Jauh lebih gampang daripada jaga lilin.

Kalau bukan iklan "Jo si Cerdikiawan", hampir setiap video di youtube pasti diawali iklan ini di youtube. Meskipun dapat di-skip, tetap saja iklan Binomo yang satu ini mendapat bully berupa meme-meme dan parodi. 

Bagaimana tidak? Para netizen sendiri membocorkan bahwa nama asli sang pemeran iklan itu adalah Yosua Putra. Dia bukanlah trader, melainkan seorang pemain drum profesional. Alhasil, mereka mencari akun media sosial miliknya dan mendapati foto-foto "alay" masa lalu. Terutama foto saat si Buset (aka "Budi Setiawan") menjadi crosshijaber saat SMP.

Walaupun begitu, saya pun tidak tahu apa-apa tentang bursa, saham, investasi, trading termasuk Binomo itu sendiri (pake gaya si Buset). Tapi saya sempat berpikir pihak Binomo menciptakan iklan se-cringe mungkin bukan langkah sembarangan. Mereka mengorbankan orang yang bukan ahlinya menjadi pemeran iklan dan bahan bully-an. Semakin banyak orang mengocehinya malah perusahaan mereka makin terkenal. 

Jutaan pembuat meme dan parodi bahkan tidak menyadari. Bahwa secara tak langsung kalian diseret dalam permainan perusahaan yang kalian bully!

Ya, kan namanya juga saya sempat berpikir begitu. Tapi masih ingatkah dengan iklan Klinik Tong Fang yang marak di TV sekitar 7 tahun yang lalu? Pihak klinik mengeluarkan dananya secara masif kepada stasiun TV dengan harapan produknya makin banyak dikenal. Dilengkapi pula dengan testimoni (yang mungkin) mantan para pasien. 

Akan tetapi, testimoni yang diberikan dinilai lebay. Para pemeran iklan alias (yang katanya) mantan pasien ber-akting di depan greenscreen dengan latar perpustakaan eropa hingga monas

Alhasil menjadi bahan meme dan parodi viral pada masanya, dengan bully-an receh netizen. Ungkapan makin terkenal makin laku tak berlaku. Iklannya sendiri dibredel KPI dengan alasan kebohongan testimoni dan diskon. Bisnis klinik ini lalu makin surut dan bangkrut. Meskipun berinduk pada Rumah Sakit Tong Fang di China.



Nah, bagaimana dengan nasib Binomo sendiri di Indonesia setelah iklannya viral? Pemerintah sendiri akhirnya memblokir situs perusahaan itu dan menganggapnya ilegal. Walaupun dapat dibuka dengan vpn, setidaknya pemerintah memberi cap busuk terhadap Binomo. Malah makin banyak masyarakat awam yang mewanti-wanti aplikasi tersebut adalah perjudian kepada orang disekitarnya.

Meski belum bangkrut karena memiliki pengguna yang banyak. Bahkan tak sedikit pengguna aplikasi sendiri yang membantah bahwa apa yang dimainkannya itu lebih mudah dari telapak tangan.

Hampir sama bukan? Mau untung malah buntung.

Maka jika kalian ingin menjual apa yang dimiliki, berilah informasi yang sesungguhnya sesuai apa yang dijual. Jangan mengambil emas berisikan bom waktu. Itu aja sih, hehe.

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”(QS. Al-Muthaffifin

Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu” (QS ar-Rahman [55]: 9)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Impianku untuk Masa Depan Bandung (Chapter 1)

Setelah Rasulullah menginjakkan kakinya di Madinah, bangunan pertama yang dibangun umat Islam adalah masjid. Bukan istana. ----- Sebagai seorang muslim, saya ingat seperti yang dikatakan mamah. Sedari kecil saya selalu menghitung ada berapa masjid yang dilewati. Hal itu sering dilakukan saat melakukan perjalanan jauh.  Menurut situs sistem informasi masjid (SIMAS), jumlah masjid di Kota Bandung saja tercatat sebanyak 2256 buah! Sangat menggambarkan bahwa masyarakat kota ini bermayoritas pemeluk Islam yang taat.  Namun, sepanjang menempuh perjalanan hidup di Kota Bandung, saya merasa jarang melihat masjid yang berada di pinggir jalan besar. Khususnya di pusat kota. Kebanyakan berada di dalam gang sempit. Sangat sulit menemukan parkir motor apalagi mobil. Hal ini membuat sebagian muslim terutama supir taksi atau ojol semakin terhalang untuk shalat berjamaah tepat waktu. Akan tetapi, tidak jarang terdapat bangunan yang kosong atau tidak terpakai di pinggir...

Apa itu kunjungkopi.id?

Mungkin ini adalah lanjutan dari coretan sebelumnya . Terutama pada paragraf kedua. Alkisah ada seorang bocah gabut yang hobinya berkeliling kedai kopi. Lalu setelah lama ia melakukannya, datanglah ide membuat konten di Instagram untuk hobinya itu. Memotret setiap sudut berbagai kedai kopi dan menginformasikan alamat, jam buka dan harga kopi yang dipesan. Itulah kunjungkopi.id. Pengisi literasi kami setelah ilham fiksi tenggelam dalam rimba. Kami datang secara acak dan cuma-cuma ke kedai kopi pilihan kami. Tak hanya itu, kami juga menerima DM promosi kedai kopi kalian untuk ditampilkan di instastory kunjungkopi.id. Lagi-lagi, semuanya gratis. Ya, kami adalah direktori kedai kopi pencarianmu. Terutama seputaran Bandung Raya. Dan kami adalah salah satu jawaban kemana nieuwalfianosekai itu. Terima Kasih

Selam Masa Kelam

Waktu demi waktu terus menyeret raga dan atmanya. Menyisakan sampah berupa kenangan indah yang tak dapat terulang lagi Insan sekitar silih berganti kapan berbalik  Menikmati dan alami takdir tiap-tiapnya. Dan aku terdampar dalam masa meragu Kapan berakhir seiring kabar dunia makin memburuk Duduk menonton sendiri sebagai daging buangan rahim ibu Makhluk pilihan Tuhan dalam permainan-Nya mengujiku. Rasa sakit dalam ruh buat mereka acungkan pedang Mengambil harta orang lain dan nyawa tapi kau kembali buang Tiada sadar segala laku dalam untaian benang Para penguasa bermata satu bergerak dalang.