Langsung ke konten utama

Postingan

Susah Tahajud

Sang Ustadz menjawab pertanyaan terakhir dan mengakhiri halaqah dengan salam. Akan tetapi para santri masih saja berebut kesempatan untuk ber- curhat kepadanya. Biasanya bersifat sedikit privasi. Namun, ada sebuah pertanyaan dari mereka yang membuat hati kian tersindir. "Pak ustadz, saya sudah berusaha tidur sehabis Isya. Tapi saya terus terikat di kasur untuk Shalat Tahajud. Usaha apa lagi yang saya lakukan?" "Nak, jika kita sulit untuk melakukan itu, maka tidak salah semuanya  akibat dari maksiat dan dosa-dosa kita. Maka tidak ada cara lain untuk menahan hawa nafsu." "Ta...tapi sekarang saya sudah jauh dari gadget . Shalat berjamaah terus tepat waktu. Bahkan 10 juz sudah dihafalkan. Jadi saya sibuk memikirkan apa dosa saya yang menghalangi bangun di sepertiga malam agung itu." " Tuh kan . Siapa bilang merasa sempurna dalam beribadah itu bukan termasuk dosa?"

Obrolan di Tanah yang Tinggi

Gunung Cikuray terlihat gagah seolah menopang langit biru.  Suhu dingin membentengi kulit bumi dari teriknya sinar matahari. Oleh karena itulah kami dapat berbincang-bincang di tengah Alun-Alun Cikajang meskipun memasuki tengah hari.  Sebagian besar mereka datang dari daerah yang jauh. Semua dilakukan demi menjaga silaturahim antar manusi a yang memiliki kesamaan hobi dan cita-cita. Akan tetapi, mereka semua merasa asing dengan kehadiranku. Ya, meski pada pertengahan perbincangan aku merasa tak sedikit kata-kataku dihargai.  Waktu makan siang memanggil. Kami membeli makanan dari pedagang kaki lima sekitar dan mengambil tempat duduk di taman. Seorang wanita dari komunitas yang sama menghampiriku dan duduk di depan mata.  "Oh ya, maaf. Boleh aku bertanya apa yang terjadi pada dirimu?" tanya wanita itu.  "Boleh. Apa yang kamu ingin tanyakan?" "Kenapa kamu jarang sekali mengobrol di WA?  Aku menjawabnya tak hanya dengan senyuman ...

Kocheng Oren Series : The Legend of Abdul (Chapter 1: Kelahiran)

Matahari sedang angkuh terbang di langit. Dia seakan-akan mengklaim diri sebagai dewa sembari menjilat-jilat permukaan bumi. Termasuk sebuah pasar yang kumuh nan berdebu.  Di tempat inilah para kocheng dijadikan gelandangan liar oleh Hooman. Hidup keras atau mati hina adalah dua pilihan yang mustahil hilang bagi mereka. Untuk memenuhi urusan perut saja harus menunggu para Hooman yang berbaik hati. Kalau tidak ada, maka mencuri adalah kewajiban mereka. Meski bertaruh dengan siksaan pukulan dari Hooman. Seekor kocheng betina berjalan tertatih tatih menanggung letih. Dia sedang mengandung anaknya yang pertama. Kakinya yang semakin lemas membuatnya ambruk. Kocheng itu pasti akan melahirkan. Alangkah terkejutnya, semua kocheng yang dilahirkannya dalam keadaan bangkai yang hancur tergigit. Kecuali hanya seekor bayi kocheng oren yang ia namai Abdul. Ya, sang ibu bukannya sedih. Akan tetapi dengan keanehan demikian, ia meyakini bahwa suatu saat anaknya akan mengambil alih Dun...

Secukil Pengalaman Tentang Ennichisai 2019 (Day 1)

Ah, sudah lama saya gak pijat-pijat keyboard laptop buat ngasih sajen buat blog. Oke langsung aja. Ennichisai adalah festival kebudayaan Jepang yang diadakan komunitas warga Jepang di Indonesia. Biasanya diadakan hanya dua hari dan hanya setahun sekali di kawasan Blok M, Jakarta. Sebelumnya saya sempat menghadiri event ini tahun kemarin sebagai yang pertama. Tapi, Ennichisai tahun ini menurut saya sangat jauh lebih meriah. Ah, maksudku lebih rame aja. Hehe. Terlebih lagi dengan kehadiran moda transportasi baru berupa MRT. Saya tidak seperti wibu lainnya yang mendatangi Ennichisai buat menikmati konser musik, foto bareng cosplay dan sebagainya. Kecuali cuma lewat doang. Karena yang diutamakan menginjakkan kaki di tempat ini adalah: Nyobain jenis makanan Jepang yang seumur hidup belum pernah masuk lambung. Cari brosur pendidikan/pekerjaan di Jepang. FILOSOFI KOPI Belanja pernak pernik perwibuan (tapi bukan ngeborong) Memandang sedikit bagaimana pergerakan wibu dan dal...

Lelap

https://engagedscholarship.csuohio.edu/all_crime_scene_photos/1091/preview.jpg Kau tahu apa kendaraan tertua yang pernah ada? Kereta kuda? Dokar? Pedati? Ataukah Sandal? Tiada yang tepat. Oh? Kaki sendiri? Hampir benar. Namun ada kendaraan tertua yang menakjubkan. Tidur. Dia dapat membawamu ke masa depan lebih cepat daripada berlari.  Terkadang mengantarkan dirimu hingga alam mimpi. Sayangnya tidur tak membuatmu ke masa lalu selain maya. Bahkan ia pernah membiarkan perutmu tertusuk oleh sang musuh. Semoga lelap terakhirmu sebagai keranda intan menuju surga. Wahai Pahlawan.

WELKOM IN NIEUW ALFIAN NO SEKAI BLOGSPOT

Assalamualaikum sotara sotara... Sebelumnya saya ingin bilang kalau situs alfianosekai.blogspot.com sudah amburegul, eh amburadul. Banyak tulisan yang tidak ditempatkan pada halaman seharusnya. Inilah alasan saya membuat situs baru setelah hibernasi lama dari dunia literasi. Diharapkan, dengan situs baru ini akan jad sebuah bagian revolusi dalam diriku... Jazakallah Khair... Terima Kasih, Hatur Nuhun, Arigato Gozaimasu, Thank You, Dank Je.